Rumadi, S. Pd

Guru Bidang Studi Matematika SMP negeri 20 Surabaya...

Selengkapnya
Sholat : Fungsional dan Transformasional

Sholat : Fungsional dan Transformasional

====================

Dalam memperingati Isra' Mi'raj Nabi Muhammad Saw. tidak cukup hanya mengagumi peristiwanya saja. Tapi yg terpenting menjalankan pesan utamanya, berupa kewajiban shalat lima waktu dalam sehari semalam.

Menurut Ulama' fuqaha' definisi shalat ialah "aqwalun wa af'alun muftatahatun bit-takbiri mukhta-tamatun bit taslim, bi syaraithi makhshushatin" [Ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan yg dimulai dengan takbir dan di akhiri dengan salam]. Dilihat dari definisi ini, Shalat hampir sepenuhnya dipertaruhkan hanya pada cara dan bentuk badaniyah secara formal semata.

Lalu, bagaimana menjadikan shalat sebagai ibadah bermakna: fungsional dan transformasional, dalam arti shalat yg "membuahkan kepribadian muslim, sehingga berfungsi membentengi dan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. [QS. Al-Ankabut: 45].

Agar umat Islam sukses dalam shalatnya; shalat khusyu', bermakna, fungsional, dan transformasional sehingga dapat meng-eleminasi dan menjauhkan diri dari kemaksiatan dan kemungkaran; korupsi, kejahatan, dll, maka penulis cenderung mendefinisikan shalat, "sebagai: forum komunikasi spiritual, dimana melalui ungkapan dan gerak tertentu seorang hamba memperbaharui ikrar kepasrahanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan demikian, shalat pertama kali haruslah dipandang sebagai moment spiritual [ruhaniyah]. Artinya, meskipun shalat itu diwarnai oleh serangkaian ungkapan dan gerakan tertentu yg bersifat lahiriyah, tapi ungkapan dan gerakan itu disadari sepenuhnya hanya bangunan formalnya belaka. Dan jika diperhatikan, gerakan dan ungkapan-ungkapan tersebut tidaklah mengandung arti dalam dirinya selain sebagai simbol atau perlambang dari keluluhan ruhani yg menjiwainya. Bangunan formal atau simbolis terkadang memang dibutuhkan. Tapi, thema pokok shalat sebagai aktivitas spiritual bukanlah disitu, melainkan pada kekhusyuk-an hati yg ada dibalik ungkapan dan gerak yg formal dan simbolis tadi. Allah berfirman: "Celakalah orang yg shalat, yg melupakan [bahwa gerak dan ungkapan dalam] shalatnya itu hanyalah perlambang belaka".[QS.Al-Ma'un: 4-5]; Dan, sungguh berbahagia orang-orang mukmin yg berhati khusyu' dalam shalatnya".[QS.Al-Mukminun:1-2].

■ KESIMPULAN [Tarjih]:

Memahami paparan diatas, penulis dapat menyimpulkan;

1]. Bahwa shalat itu, bukan sekedar ritual formal tanpa makna dan pesan substansial. Shalat menghendaki pelakunya memahami, menyelami, menghayati, dan mengaktualisasikan isi dan substansi shalat itu. Al-Qusyairi, menyatakan:

"وأما اقامة الصلاة فالقيام بأركانها وسننها ثم الغيبة عن شهودها برؤية من يصلى له فيحفظ عليه أحكام الأمر بما يجرى عليه منه، وهو عن ملاحظتها محو، فنفوسهم مستقبلة القبلة، وقلوبهم مستغرقة في حقائق الوصلة".

"Mendirikan shalat itu berarti menjalankan rukun dan sunnah-sunnahnya, kemudian merasa seolah-olah hilang [ghaibah] luruh dengan menghadirkan jiwa [syuhud] karena melihat [rukyah] Dzat yg menjadi tujuan shalatnya. Maka dengan kondisi itu, dia akan selalu terjaga dalam seluruh rangkaian hukum yg dibebankan padanya dalam shalat. Pada kondisi itu, dia berada dalam puncak titik fokus dimana jiwa mereka menghadap kiblat, sementara hatinya tenggelam bersatu dalam hakikat wushul-sampai kepada Allah Swt".[Al-Qusyairi, Latha'if, Jilid I, hal. 19].

Dengan demikian, shalat tidak hanya gerakan dan ucapan belaka, tapi shalat yg benar itu menyalatkan hati, pikiran, dan sistim kehidupan; ritualitas shalat diintegrasikan dengan aktivitas kehidupan sesuai pesan moral shalat itu sendiri. Jika dihitung, shalat wajib lima waktu berisi 109 kali takbir [termasuk takbiratul ihram], 17 rakaat, 5 kali membaca do'a iftitah [pembukaan], 17 membaca surat al-fatihah dan surah atau ayat selain al-fatihah, 17 ruku' berikut do'anya, 17 I'tidal berikut do'anya, 34 sujud dan do'anya, 9 kali tahiyat dan tasyahud, 10 kali salam. Apabila muslim melaksanakan shalat sunah rawatib, dhuha, dan lainya, maka dapat dipastikan bahwa frekuensi gerakan dan ungkapan tersebut akan semakin interns. Hitungan ini, menunjukan bahwa frekuensi terbesar dari gerakan dan bacaan shalat adalah takbir. Esensi takbir adalah deklarasi dan peneguhan hati hamba bahwa Allah itu Mahabesar. Deklarasi ini mengandung makna bahwa hamba harus mengagungkan-Nya, dengan merendahkan hati dan pikiranya dalam beraudensi denga-Nya. Implikasinya, Mushalli harus memiliki akhlak rendah hati, tidak sombong, tidak takabur, tidak arogan, tidak otoriter dan tidak merasa paling berkuasa, dan seterusnya....

Dengan konsep shalat yg demikian ini, yakni "shalat sebagai moment spiritual", maka kebiasaan orang "meriskir permusuhan" hanya lantaran soal bentuk gerak atau ungkapan dalam shalat menjadi tanpak jelas sebagai ketertipuan dan kebodohan.

2]. Gerakan, bacaan dan amalan shalat tidak sebatas dijalankan sesuai syarat dan rukunya, tetapi juga harus diterjemahkan dan di-tranformasikan dalam kehidupan. Shalat, sebagai wujud aktual kesetiaan seorang hamba kepada tuhanya, belum sempurna tanpa dibarengi segala upaya-aktualisasi kebajikan sosial, terutama kesetiaan menolong pihak-pihak yg lemah/diperlemah baik secara ekonomi, politik maupun budaya. Allah berfirman: "Tahukah engkau orang yg mendustakan agama? Dialah orang yg menghardik anak yatim, orang yg tidak peduli dengan kebutuhan pangan orang miskin; Celakalah orang-orang yg shalat, namun lupa akan arti shalatnya [ikrar kesetiaanya], yaitu orang-orang yg suka pamer [dikira dengan ikrar kesetiaan yg sangat simbolis itu saja sudah cukup], dan enggan menolong orang lain".[al-Ma'un:1-7]. Wallahu A'lam. Selamat Hari Isra' Mi'raj Nabi Muhammad Saw.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali